Kapolres Bengkulu Selatan AKBP Florentus Situngkir
Bengkulu Selatan –  Kapolres Bengkulu Selatan AKBP  Florentus Situngkir S.I.K., melalui Waka Polres Kompol Rahmat Hadi F S.H., S.I.K., turut hadir dalam Tradisi nujuh likur di bulan Ramadhan, dilapangan Sekundang  Setungguan Manna Bengkulu Selatan, Sabtu (06/04/24).

Tradisi nujuh likur di bulan Ramadan ini merupakan tradisi di Kabupaten Bengkulu Selatan  sejak masa lalu. 

Tradisi ini sudah turun temurun dari masyarakat Melayu dengan menyalakan lampu yang kemudian ditempatkan di sekitar masjid, di berbagai penjuru jalan, halaman rumah dan teras rumah penduduk.

Kegiatan dibuka oleh Bupati Bengkulu Selatan Gusnan Mulyadi, Wakapolres Bengkulu Selatan Kompol Rahmat Hadi F S.H., S.I.K., Dandim 0408 BSK
Sekda Kab.Bengkulu Selatan, Ketua MUI, Ketua PCNU, Ketua Muhammdiyah, Ketua BMA, Ketua Baznas, Para Staf Ahli dan tamu undangan lainnya.

Dalam Sambutan Bupati Bkl-Sel menjelaskanAcara Malam Tujuh Likur dan Tarawih Bersama Ramadhan 1445 H/2024 di Kabupaten Bengkulu Selatan bahwa Tradisi malam tujuh  likuran yang dimaksud di sini adalah sebuah tradisi masyarakat Islam Indonesia dalam meramaikan bulan Ramadan dengan cara menyalakan damar malam, lampu cangkok/colok, tepatnya di malam ganjil di sepertiga terakhir di bulan Ramadan

Acara Malam Tujuh Likur dan Tarawih Bersama Ramadhan 1445 H/2024 di Kabupaten Bengkulu Selatan dilaksanakan pada setiap memasuki bulan suci Ramadhan, banyak tradisi yang dilakukan masyarakat Melayu dalam rangka menyambut dan memeriahkan bulan suci Ramadhan, sebagai tanda syukur dan bergembira atas datangnya bulan penuh berkah.

Ada cara menyambutnya dengan membawa obor dan membakar kayu bakar lanjaran/ tempurung kelapa (sayak dalam istilah masyarakat Bengkulu Selatan).
Bahkan hingga di penghujung bulan Ramadhan pun juga banyak ditemukan tradisi yang berlaku secara turun-temurun sejak masa lalu, penyalaan lampu atau penerangan tradisional yang ditempatkan disekitar masjid, diberbagai penjuru jalan, halaman rumah dan teras-teras rumah penduduk sebagai penerang.

Puncak tradisi ini berada pada malam 27 Ramadan yang dikenal dengan Istilah malam tujuh likur.  Berdasarkan penjelasan dan pengalaman para ulama terdahulu bahwa mereka sering bertemu dengan Malam lsilatul Qadr itu pada malam tujuh likur.

Pada malam puncak pelaksanaan malam nujuh likur,  pada masa lalu pelaksanaannya dilengkapi dengan berbagai kegiatan oleh masyarakat diantaranya dengan saling mengunjungi ke rumah-rumah penduduk dan dihidangkan makanan atau kue tradisional dan diakhiri dengan mendoakan agar keluarga yang didatangi memperoleh limpahan rahmat, pahala dan rezeki. Hal itu dilakukan bergiliran dari satu rumah ke rumah lainnya selama malam 27 Ramadhan tersebut.

Setelah Acara sambutan dilanjutkan dengan membawa obor dan membakar kayu bakar lanjaran/ tempurung kelapa sebanyak 200 lanjaran (sayak dalam istilah masyarakat Bengkulu Selatan).

Pada kesempatan tersebut Waka polres Bengkulu Selatan  Kompol Rahmat Hadi F S.H., S.I.K., turut menyalakan obor sebagai tanda perayaan tujuh  likur.